Nama : Diah Ira Rahmawati
NIM : 133511024
Mata Kuliah : Islam dan Budaya Jawa (PM-5 A)
Dosen Pengampu
: M. Rikza Chamami, M.SI
Resensi
Buku “Islam Nusantara Dialog Tradisi dan
Agama Faktual”
Identitas
Buku
Judul
Buku : Islam Nusantara Dialog Tradisi dan Agama
FaktualPengarang : M. Rikza Chamami
Penerbit : Pustaka Zaman
Tahun Terbit : Juli 2015
Kota Terbit : Semarang
Ketebalan Buku : 112 halaman
Tentang Penulis
M. Rikza
Chamami, M.SI lahir di Desa Krandon, Kabupaten Kudus Jawa Tengah pada 20 Maret
1980 dari pasangan Chamami Tolchah dan Masfiyah Masruhan. Beliau menempuh
pendidikan formal dan non-formal hingga beliau tamat MA di Kudus yakni di MA
Qudsiyyah, kemudian menempuh Program S.1 di IAIN Walisongo Jurusan Kependidikan
Islam, S.2 Program Studi Pendidikan Islam di IAIN Walisongo, dan S.3 Program
Doktor Islamic Studies di UIN Walisongo dengan prestasi yang sangat
membanggakan (cumlaude).
Karir beliau saat ini aktif sebagai Dosen Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo dan Sekretaris Laboratorium
Pendidikan FITK. Beliau disebut sebagai aktifis tulen yang prinsip hidupnya
selalu memadukan ilmu dan sosial. Kegiatan ilmiah dalam bentuk karya tulis selalu
aktif dilakukan. Buku ilmiah yang dihasilkan antara lain: Demi IPNU (Aneka Ilmu
Semarang, 2003), Mengendalikan “Syahwat Politik” Kiai NU (Aneka Ilmu Semarang,
2004), Revolusi Mental Pemikiran Islam (Pustaka Zaman, 2014), Pengantar Studi
Islam Barbasis Unity of Sciences (Walisongo Press, 2015), dan buku Islam Nusantara
Dialog Tradisi dan Agama Faktual adalah buku ke-11 yang beliau tulis. Selain
menulis, beliau juga aktif dalam kegiatan akademik berupa diklat dan workshop.
Sinopsis
Buku
Buku ini berjudul “Islam Nusantara
Dialog Tradisi dan Agama Faktual” merupakan buku ilmiah yang bernafaskan Islami
yang dapat dijadikan sumber bacaan bagi masyarakat umum dan kaum Intelektual
Muslim pada khususnya. Dalam buku ini disertakan pandangan Ulama’ Muslim dalam
menyikapi beberapa problema yang melibatkan keagamaan di Nusantara. Pada buku
ini, materi dimuat ke dalam lima Bab meliputi: Bab
I Pendahuluan, Bab II membahas karakter Islam Nusantara, Bab III membahas
tentang agama sosial yang berkebudayaan, Bab IV tentang Islam Nusantara cinta
damai dan Bab V berisikan penutup.
Di Bab Pendahuluan, penulis memberikan gambaran
umum mengenai Islam dan pentingnya melestarikan ajaran Islam yang hakiki.
Kemudian pada Bab II dibahas tentang karakter Islam Nusantara yang diartikan sebagai
Islam faktual berciri khas Indonesia yang berbeda secara teknis dengan Islam
khas Arab, China, Turki, dan lain sebagainya, namun substansi ideologi agamanya
sama yakni tauhid dan mengakui bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT.
Islam Nusantara murni sebagai gerakan dan pemikiran yang merespon kendurnya
Islam indonesia dengan segala inisiasi untuk mempertahankan nasionalisme.
Inti dari gerakan Islam Nusantara yakni: Pertama,
mendudukkan identitas bahwa Islam adalah sebuah keyakinan suci yang bisa diterima
hingga Indonesia. Kedua, Islam yang sampai ke Indonesia melewati sejarah
panjang termasuk akulturasi budaya. Ketiga, nilai kearifan lokal Islam
Nusantara tidak tercerabut dari substansi syari’at Islam. Dan Keempat,
Islam sebagai agama juga menjadi tuntunan hidup dalam berbangsa dan bernegara.
Sehingga Islam Nusantara bukan sebagai gerakan desakralisasi agama. Bahwa Islam
Nusantara bukan ideologi baru melainkan suatu pemikiran yang masih selalu
berkembang dalam merespon keberislaman. Sedangkan pembacaan al-Qur’an dengan
langgam Jawa pada intinya adalah untuk membumikan al-Qur’an dengan pendekatan
budaya Nusantara. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan pula kepedulian
masyarakat Indonesia tentang pengamalan dalam membaca al-Qur’an termasuk tajwidnya.
Bab III memabahas tentang agama sosial yang
berkebudayaan, yakni ketika agama itu disandingkan dengan budaya, maka ada
pemahaman yang lebih luas. Bahwa agama adalah urusan individu per individu
sedangkan kumpulan dari orang yang seagama itu menjadi budaya. Sehingga perlu
adanya kerukunan umat beragama. Penulis juga menguraikan tentang pesantren yang
berwawasan kebangsaan, kesantunan berbahasa dalam politik, sepaham untuk
memusuhi radikalisme dan tetap mencintai Islam, serta menguraikan masalah
radikalisme pendidikan agama.
Pada Bab IV yakni Islam Nusantara yang cinta damai,
disebutkan bahwa Islam mengenal adanya ikhtilaf al-madzahib yang artinya
Islam sejak awal menyadari tentang adanya perbedaan. Banyak pihak yang berharap
terwujudnya Indonesia yang harmonis dan berdikari melalui Islam Nusantara
tersebut. Dalam Islam, dikenal adanya pengembangan-pengembangan berbasis nilai
lokal yang tetap terintegrasi dengan syariat sebagaimana adanya akulturasi
budaya di Jawa. Penulis mengungkapkan pula tentang ‘Pribumisasi Islam’ yang
berusaha mempertemukan pemahaman antara agama dan budaya. Bahwa agama dan
budaya keduanya memiliki nilai-nilai luhur yang mengajarkan kebaikan, patuh
kepada Tuhan serta rukun bersama masyarakat.
Islam Nusantara juga menjadi refleksi keilmuan
dimana ia memadukan antara Islam konseptual, Islam faktual dan slam sosial.
Sehingga dalam paham ini, seseorang tidak lagi fanatik dan anti budaya. Dibahas
pula tentang kejujuran yang sejak awal diterapkan dalam konsep Islam. Dalam
akhir bahasan buku ini, terdapat paparan mengenai kualitas keilmuan santri yang
mana penulis menyuguhkan pengetahuan tentang keilmuan di pondok pesantren,
program pendidikan yang diterapkan di sana dan lain sebagainya.
Pada Bab V sebagai penutup, penulis memberikan
tanggapan mengenai kesimpulan umum diskusi Islam Nusantara.
Keunggulan
Buku ini memiliki beberapa
keunggulan yang disajikan, dibandingkan dengan buku lain yakni memuat materi
yang sarat akan konsep dan ulasan yang mudah dipahami. Buku ini menyajikan
wawasan keagamaan yang berdasarkan realita dan kondisi aktual yang terjadi.
Selain itu, buku ini meneyertakan banyak sekali pandangan serta perspektif para
ulama’ negeri dalam memahami apa itu Islam Nusantara, bagaimana interelasi
budaya yang perlu diwujudkan, serta nilai-nilai luhur yang penulis ungkap dari
berbagai sisi keagamaan dan tradisi lokal yang ada. Penulis juga menyampaikan
pesan-pesan moral dalam setiap sub bahasan buku ini. Sehingga pembaca akan
memperoleh wawasan sekaligus tuntunan selama membacanya.
Kelemahan
Pada buku ini, di samping memiliki
keunggulan, namun juga terdapat kekurangan di dalamnya, yakni tidak disajikan gambar
atau ilustrasi dalam buku ini, sehingga dapat menimbulkan kurangnya minat para calon
pembaca dalam mengkaji buku ini. Bagi pembaca non Jawa mungkin akan
mengalami sedikit kesulitan dalam menafsirkan beberapa kosa kata Jawa. Alangkah
lebih baik jika di bawah teks diberi keterangan arti makna, sehingga tidak
mengurangi pesan penulis secara langsung.
Kesimpulan
Sebagai
Peresensi, berdasarkan dari keunggulan dan kelemahan buku ini, menilai bahwa buku
Islam Nusantara Dialog Tradisi dan Agama Faktual
baik untuk dipublikasikan karena tidak lain buku ini diterbitkan bertujuan agar menjadi renungan bagi para pembacanya, bahwa Islam Nusantara itu perlu dimaknai sebagai rangkaian memahami Islam faktual, Islam yang benar adanya dan berkembang tanpa pernah berhenti.
baik untuk dipublikasikan karena tidak lain buku ini diterbitkan bertujuan agar menjadi renungan bagi para pembacanya, bahwa Islam Nusantara itu perlu dimaknai sebagai rangkaian memahami Islam faktual, Islam yang benar adanya dan berkembang tanpa pernah berhenti.
Peresensi
: Diah Ira Rahmawati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar