Rabu, 23 September 2015

Resensi



Nama                     : Diah Ira Rahmawati
NIM                       : 133511024
Mata Kuliah           : Islam dan Budaya Jawa (PM-5 A)
Dosen Pengampu   : M. Rikza Chamami, M.SI

Resensi Buku  “Islam Nusantara Dialog Tradisi dan Agama Faktual”
Identitas Buku
Judul Buku          : Islam Nusantara Dialog Tradisi dan Agama Faktual
Pengarang           :
M. Rikza Chamami
Penerbit               : Pustaka Zaman
Tahun Terbit        : Juli 2015
Kota Terbit          : Semarang
Ketebalan  Buku : 112 halaman




Tentang Penulis
M. Rikza Chamami, M.SI lahir di Desa Krandon, Kabupaten Kudus Jawa Tengah pada 20 Maret 1980 dari pasangan Chamami Tolchah dan Masfiyah Masruhan. Beliau menempuh pendidikan formal dan non-formal hingga beliau tamat MA di Kudus yakni di MA Qudsiyyah, kemudian menempuh Program S.1 di IAIN Walisongo Jurusan Kependidikan Islam, S.2 Program Studi Pendidikan Islam di IAIN Walisongo, dan S.3 Program Doktor Islamic Studies di UIN Walisongo dengan prestasi yang sangat membanggakan (cumlaude).
Karir beliau saat ini aktif sebagai Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo dan Sekretaris Laboratorium Pendidikan FITK. Beliau disebut sebagai aktifis tulen yang prinsip hidupnya selalu memadukan ilmu dan sosial. Kegiatan ilmiah dalam bentuk karya tulis selalu aktif dilakukan. Buku ilmiah yang dihasilkan antara lain: Demi IPNU (Aneka Ilmu Semarang, 2003), Mengendalikan “Syahwat Politik” Kiai NU (Aneka Ilmu Semarang, 2004), Revolusi Mental Pemikiran Islam (Pustaka Zaman, 2014), Pengantar Studi Islam Barbasis Unity of Sciences (Walisongo Press, 2015), dan buku Islam Nusantara Dialog Tradisi dan Agama Faktual adalah buku ke-11 yang beliau tulis. Selain menulis, beliau juga aktif dalam kegiatan akademik berupa diklat dan workshop.
Sinopsis Buku
Buku ini berjudul “Islam Nusantara Dialog Tradisi dan Agama Faktual” merupakan buku ilmiah yang bernafaskan Islami yang dapat dijadikan sumber bacaan bagi masyarakat umum dan kaum Intelektual Muslim pada khususnya. Dalam buku ini disertakan pandangan Ulama’ Muslim dalam menyikapi beberapa problema yang melibatkan keagamaan di Nusantara. Pada buku ini, materi dimuat ke dalam lima Bab meliputi: Bab I Pendahuluan, Bab II membahas karakter Islam Nusantara, Bab III membahas tentang agama sosial yang berkebudayaan, Bab IV tentang Islam Nusantara cinta damai dan Bab V berisikan penutup.
Di Bab Pendahuluan, penulis memberikan gambaran umum mengenai Islam dan pentingnya melestarikan ajaran Islam yang hakiki. Kemudian pada Bab II dibahas tentang karakter Islam Nusantara yang diartikan sebagai Islam faktual berciri khas Indonesia yang berbeda secara teknis dengan Islam khas Arab, China, Turki, dan lain sebagainya, namun substansi ideologi agamanya sama yakni tauhid dan mengakui bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT. Islam Nusantara murni sebagai gerakan dan pemikiran yang merespon kendurnya Islam indonesia dengan segala inisiasi untuk mempertahankan nasionalisme.
Inti dari gerakan Islam Nusantara yakni: Pertama, mendudukkan identitas bahwa Islam adalah sebuah keyakinan suci yang bisa diterima hingga Indonesia. Kedua, Islam yang sampai ke Indonesia melewati sejarah panjang termasuk akulturasi budaya. Ketiga, nilai kearifan lokal Islam Nusantara tidak tercerabut dari substansi syari’at Islam. Dan Keempat, Islam sebagai agama juga menjadi tuntunan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Sehingga Islam Nusantara bukan sebagai gerakan desakralisasi agama. Bahwa Islam Nusantara bukan ideologi baru melainkan suatu pemikiran yang masih selalu berkembang dalam merespon keberislaman. Sedangkan pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa pada intinya adalah untuk membumikan al-Qur’an dengan pendekatan budaya Nusantara. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan pula kepedulian masyarakat Indonesia tentang pengamalan dalam membaca al-Qur’an termasuk tajwidnya.
Bab III memabahas tentang agama sosial yang berkebudayaan, yakni ketika agama itu disandingkan dengan budaya, maka ada pemahaman yang lebih luas. Bahwa agama adalah urusan individu per individu sedangkan kumpulan dari orang yang seagama itu menjadi budaya. Sehingga perlu adanya kerukunan umat beragama. Penulis juga menguraikan tentang pesantren yang berwawasan kebangsaan, kesantunan berbahasa dalam politik, sepaham untuk memusuhi radikalisme dan tetap mencintai Islam, serta menguraikan masalah radikalisme pendidikan agama.
Pada Bab IV yakni Islam Nusantara yang cinta damai, disebutkan bahwa Islam mengenal adanya ikhtilaf al-madzahib yang artinya Islam sejak awal menyadari tentang adanya perbedaan. Banyak pihak yang berharap terwujudnya Indonesia yang harmonis dan berdikari melalui Islam Nusantara tersebut. Dalam Islam, dikenal adanya pengembangan-pengembangan berbasis nilai lokal yang tetap terintegrasi dengan syariat sebagaimana adanya akulturasi budaya di Jawa. Penulis mengungkapkan pula tentang ‘Pribumisasi Islam’ yang berusaha mempertemukan pemahaman antara agama dan budaya. Bahwa agama dan budaya keduanya memiliki nilai-nilai luhur yang mengajarkan kebaikan, patuh kepada Tuhan serta rukun bersama masyarakat.
Islam Nusantara juga menjadi refleksi keilmuan dimana ia memadukan antara Islam konseptual, Islam faktual dan slam sosial. Sehingga dalam paham ini, seseorang tidak lagi fanatik dan anti budaya. Dibahas pula tentang kejujuran yang sejak awal diterapkan dalam konsep Islam. Dalam akhir bahasan buku ini, terdapat paparan mengenai kualitas keilmuan santri yang mana penulis menyuguhkan pengetahuan tentang keilmuan di pondok pesantren, program pendidikan yang diterapkan di sana dan lain sebagainya.
Pada Bab V sebagai penutup, penulis memberikan tanggapan mengenai kesimpulan umum diskusi Islam Nusantara.
Keunggulan
Buku ini memiliki beberapa keunggulan yang disajikan, dibandingkan dengan buku lain yakni memuat materi yang sarat akan konsep dan ulasan yang mudah dipahami. Buku ini menyajikan wawasan keagamaan yang berdasarkan realita dan kondisi aktual yang terjadi. Selain itu, buku ini meneyertakan banyak sekali pandangan serta perspektif para ulama’ negeri dalam memahami apa itu Islam Nusantara, bagaimana interelasi budaya yang perlu diwujudkan, serta nilai-nilai luhur yang penulis ungkap dari berbagai sisi keagamaan dan tradisi lokal yang ada. Penulis juga menyampaikan pesan-pesan moral dalam setiap sub bahasan buku ini. Sehingga pembaca akan memperoleh wawasan sekaligus tuntunan selama membacanya.


Kelemahan
Pada buku ini, di samping memiliki keunggulan, namun juga terdapat kekurangan di dalamnya, yakni tidak disajikan gambar atau ilustrasi dalam buku ini, sehingga dapat menimbulkan kurangnya minat para calon pembaca dalam mengkaji buku ini. Bagi pembaca non Jawa mungkin akan mengalami sedikit kesulitan dalam menafsirkan beberapa kosa kata Jawa. Alangkah lebih baik jika di bawah teks diberi keterangan arti makna, sehingga tidak mengurangi pesan penulis secara langsung.
Kesimpulan
Sebagai Peresensi, berdasarkan dari keunggulan dan kelemahan buku ini, menilai bahwa buku Islam Nusantara Dialog Tradisi dan Agama Faktual
baik untuk dipublikasikan karena tidak lain buku ini diterbitkan bertujuan agar menjadi renungan bagi para pembacanya, bahwa Islam Nusantara itu perlu dimaknai sebagai rangkaian memahami Islam faktual, Islam yang benar adanya dan berkembang tanpa pernah berhenti.

Peresensi : Diah Ira Rahmawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar